Jumat, 9 September 2022 – 10:14 WIB

VIVA Politik – Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu menyarankan para kader Partai Demokrat untuk belajar matematika terlebih dahulu sebelum melakukan demo kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Saya menyarankan agar kader Demokrat untuk bisa belajar matematika dan belajar sejarah, sehingga jika membandingkan maka perbandingan itu logis tidak anti logika dan ahistoris,” kata Adian melalui keterangannya pada Jumat, 9 September 2022.

Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kata dia, total kenaikan harga BBM (premium) Rp 4.690. Sementara, Adian menyebut era Jokowi total kenaikan BBM jenis premium/pertalite Rp 3.500. 

“Jadi SBY menaikkan BBM lebih mahal Rp 1.190 dari Jokowi,” jelas dia.

Kemudian Adian menambahkan, era Presiden SBY (2004-2009 dan 2009-2014) upah minimum seperti di DKI Jakarta itu Rp 2.200.000 untuk tahun 2013. Dengan BBM harga Rp 6.500 per liter, maka upah satu bulan hanya dapat 338 liter perbulan. Di era Jokowi, lanjut dia, hari ini BBM Rp 10.000 tapi upah minimum Rp 4.641.000 perbulan.

“Dengan demikian, di era Jokowi setiap bulan upah pekerja senilai dengan 464 liter BBM. Jadi, ada selisih kemampuan upah membeli BBM antara SBY dan Jokowi sebesar 126 liter,” jelasnya.

Selain itu, Adian yang juga dikenal sebagai aktivis 98 itu mengatakan, era SBY masih ada mafia terorganisir dan masif, yaitu Petral yang embrionya sudah ada sejak awal Orde Baru pada 1969 dan beroperasi mulai 1971. Lalu Petral dibubarkan era Presiden Jokowi tahun 2015 atau hanya 6 bulan setelah Jokowi dilantik jadi Presiden di periode pertamanya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.