Jumat, 2 September 2022 – 00:45 WIB

VIVA Nasional – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkap dua peristiwa penting pada Kamis malam, 7 Juli 2022, semalam sebelum pembunuhan Brigadir Nofryansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J yang ditengarai melibatkan Inspektur Jenderal Ferdy Sambo.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengungkapkan dua cerita itu berdasarkan hasil pemeriksaan beberapa orang di lingkaran Brigadir J, yakni Vera Simanjuntak sang pacar korban dan sejumlah ajudan Ferdy Sambo.

“Vera, pacarnya Yosua, dia bilang, dia bertelepon pada tanggal 7 (Juli) malam, Yosua mengaku bahwa dia diancam. Oleh siapa? Oleh si Kuat–Kuat Ma’ruf. Dan Kuat Ma’ruf mengakui dia mengancam, yang versi Kuat Ma’ruf mengancam karena mengganggu Ibu,” kata Taufan dalam wawancara eksklusif dengan VIVA pada program The Interview di Jakarta, Senin, 29 Agustus 2022.

Ferdy Sambo, Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir J

Ferdy Sambo, Rekonstruksi Pembunuhan Brigadir J

Kuat, katanya berdasarkan pemeriksaan tersebut, sebenarnya belum tahu peristiwa apa yang terjadi di Magelang, ketika keluarga Ferdy Sambo dan istrinya di kota itu. “Cuma dia merasa Yosua ini melakukan tindakan yang tidak baiklah; jenis apa, seperti apa, dia enggak tahu persis sebetulnya.”

“Karena itu dia marah, dan itu dikonfirmasi oleh pengakuan Vera, yang mengatakan tanggal 7 malam, Yosua bilang dia diancam oleh si Kuat,” ujarnya.

Kejadian penting kedua, menurut Taufan berdasarkan keterangan Bharada Richard Eliezer dan beberapa ajudan lain Ferdy Sambo, pada malam itu, senjata api pistol jenis HS-9 yang dipakai Brigadir Yosua selama ini diambil. “Karena dianggap ada sesuatu yang membahayakan kalau dia tetap bersenjata,” katanya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.